Thursday, 4 June 2009

Rantai Kebaikan


Pada suatu hari seorang
pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir
jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya
sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan
mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih
menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan.. Tak ada
seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan
melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat
bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia
mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya
tambah kedinginan.

Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke
dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan
Anderson ."

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut
seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah
bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama
mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah.. Segera ia dapat
mengganti ban itu.. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan
kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria
itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia
sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang
nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya.
Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah
membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak
menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia
menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan,
dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang
lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu,
dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin
membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang
memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang
itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari
itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia
pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe
kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan
badan sebelum pulang ke rumah.. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe
itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu
sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk
mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia
tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya
melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun
pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya
kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang
tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang
asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan .

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang
kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang
kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita
itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia
melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita
itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya... Saya juga pernah
ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama
seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah
yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti
padamu.'"

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus
diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk
melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah
semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang
telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang
berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran
bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya
kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di
sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan
pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!"

Ada tertulis, "Berilah maka engkau
diberi." Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan
anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah
ini, jangan biarkan saja! Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu
seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun
anda tahu mereka selalu ada...

No comments: